
ilustrasi (joko luwarso/matanews)
DRAMA telenovela mantan bendahara umum Partai Demokrat M. Nazaruddin mengundang kekesalan banyak pihak yang mengikuti ceritanya. Telenovela ini telah berhasil menguras emosi para penontonnya. Pasalnya, berbagai konflik terus bermunculan dan semakin melebar.
Cerita telenovela ini belum mencapai akhirnya. beberapa pengamat yang dihubungi matanews.com sepakat, kasus Nazaruddin ini bukan lagi unable (tidak mampu) tetapi sudah unwilling (tidak mau). Satu hal yang rutin terjadi di Indonesia yaitu hukum tidak dapat ditegakkan lagi.
Sebenarnya, menurut pengamat sosial politik Presiden University Hendra Manurung, Nazaruddin mudah saja ditangkap jika dilihat dari upaya KPK yang bekerjasama dengan aparat penegak hukum apalagi atas titah Sang Penguasa Negara (Presiden). Hendra menyesalkan alert interpol yang tidak mampu mendeteksi keberadaan Nazaruddin.
“Sepertinya ini bukan tidak mampu karena teknologi sekarang sudah semakin canggih dengan adanya GPS, tinggal mau tidak melakukannya. Kalau GPS tidak bisa, pastilah interpol memiliki alat canggih lainnya yang bisa mendeteksi keberadaan Nazaruddin,” katanya kepada matanews.com di Jakarta, Rabu 6 Juli 2011.
Direktur Eksekutif Komunitas Akademisi Praktisi Informasi Teknologi Indonesia (KAPITI) Hotlan Sitorus menjelaskan pemanfaatan teknologi komunikasi dan IT memang bisa menjadi jalan untuk mendeteksi keberadaan Nazaruddin. Tetapi, Hotlan justru curiga Nazaruddin ini adalah orang yang pintar dalam masalah teknologi.
“Selama ini dia berkomunikasi lewat BBM (Black Berry Massenger). Untuk melacak keberadaan Nazaruddin yang sering berkomunikasi menggunakan BBM akan sulit sebab sistem proteksi BBM begitu ketat dan sulit dipaksakan. Kecuali jika Nazaruddin menggunakan SMS atau dipancing bicara, bisa saja Nazaruddin ini terdeteksi lewat GPS,” ujarnya saat dihubungi matanews.com.
Pengamat hukum Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Hifdzil Alim menyoroti tiga hal dari drama telenovela Nazaruddin ini. Hifdzil justru mencurigai adanya mata-mata di tubuh KPK sehingga KPK ini ada yang tidak bersih kelakuannya dalam menegakkan hukum. Oleh karena itu, KPK ini perlu dibersihkan dahulu agar kasus korupsi bisa selesai dengan tuntas tanpa capai-capai membuat skenario telenovela.
Kedua, Hifdzil menduga ada sekelompok kepentingan politik dan ekonomi yang mencegah Nazaruddin pulang. Karena, jika Nazaruddin pulang, kemungkinan aset-asetnya akan dibekukan bisa merugikan pihak yang berkepentingan tersebut. Terakhir, ada dugaan Nazaruddin akan diperlakukan layaknya aktivis Tama S. Langkun yang dikeroyok oleh orang yang tak dikenal.
“Atau lebih buruk lagi, Nazaruddin akan sama nasibnya seperti Nasrudin yang mati tertembak untuk kepentingan politis,” ceritanya kepada matanews.com.
Sebenarnya, imbuh dia, perangkat penegakan hukum yang dimiliki Indonesia sudah komplet. Hanya saja permasalahannya belum ada kemauan yang akstra untuk membawa pulang Nazaruddin. Komitmen banyak pihak dipertaruhkan sebenarnya dalam kasus ini, terutama Presiden dan Partai Demokrat yang terdepan dalam mengatakan “tidak” kepada korupsi.
Peneliti Setara Institute Ismail Hasani merasa capai melihat peran tokoh-tokoh telenovela Nazaruddin tersebut. Karena, hampir seluruh tenaga dari elit politik dan penegakan hukum di Indonesia habis mendalami perannya dengan kepentingan mereka masing-masing. “Tontonan yang sangat tidak bermutu seperti ini disuguhkan ke publik hanya menjadi kebohongan publik secara kolektif dan terstruktur,” jelasnya.
Akibat menonton telenovela ini, bukannya tidak mungkin, Ismail memprediksi publik akan memilih untuk ikut mengabaikan persoalan ini. Sehingga, bisa jadi persoalan akan menguap tetapi suatu saat nanti menjadi bom waktu di rezim yang akan datang.
Mau dibawa ke manakah Indonesia dengan kebohongan rutin ini? (tin/mut)
Share Send to Twitter Email this article
Read Also:

[...] # Ada beberapa pengamat yang mengomentari situasi dan kondisi ini. Bisa dilihat di sini [...]
[...] <!–Share on Facebook–> ShareSend to Twitter Email this article [...]