Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, kasus meninggalnya sembilan orang akibat mengonsumsi obat anti-filariasis (kaki gajah) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, harus diusut karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam pemberian obat.
“Kasus ini harus diusut, karena ini sudah menyangkut keselamatan banyak orang. Ketika saya menjabat menteri kesehatan ada kasus keracunan susu formula yang tidak sampai ada korban meninggal dan hanya anak tikus yang mati, hujatan bertubi-tubi, dan sekarang dalam kasus obat anti-filariasis yang meninggal sampai delapan orang,” katanya di Yogyakarta, Minggu.
Di depan peserta musyawarah kerja nasional khusus (Mukernasus) Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) di Yogyakarta, ia mengatakan, sebelum obat tersebut diberikan kepada masyarakat, seharusnya diinformasikan terlebih dulu kepada mereka yang akan mengonsumsi.
Sebab, menurut dia, bisa saja obat itu ada kontra indikasi, efek samping, maupun dampak lainnya.
“Sebelum diberikan kepada masyarakat untuk dikonsumsi, seharusnya mereka diberitahu dan ada formulir yang menerangkan bahwa obat tersebut memiliki kontra indikasi untuk penderita penyakit tertentu, atau efek samping lainnya, dan orang yang bersangkutan juga menandatanganinya,” katanya.
Dengan begitu, kata dia, bagi mereka yang memang tidak dapat mengonsumsi obat tersebut karena dapat berdampak buruk, maka obat itu jangan diberikan. “Dalam kasus ini alasan kurang dapat diterima karena disebutkan mereka yang meninggal adalah akibat memiliki penyakit lain,” katanya.
Menurut Siti Fadilah Supari, seharusnya jika ada kontra indikasi atau efek samping, mereka yang memiliki penyakit tertentu jangan diberi obat tersebut.
Ia mengatakan meskipun obat itu merupakan rekomendasi dari badan kesehatan dunia (WHO) dan telah diberikan di Afrika serta tidak menimbulkan masalah, namun tidak serta merta langsung dapat diberikan kepada masyarakat di lain tempat termasuk di Jawa Barat.
“Memang obat itu rekomendasi dari WHO, namun prosedur pemberian obat tetap harus dilalui. Sehingga masyarakat yang mengonsumsi obat itu tidak dirugikan. Apalagi sampai berakibat fatal yaitu ada yang meninggal dunia,” katanya.
Ia mengatakan kalau orang sakit diobati justru meninggal, ini berarti ada masalah dengan obat tersebut.
Pemerintah Kabupaten Bandung, Selasa (10/11) lalu melakukan pengobatan massal filariasis, menyusul pencanangan pengobatan massal penyakit itu oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu di Bandung.
Pencanangan pengobatan massal tersebut dengan sasaran 34 juta warga Indonesia yang menderita penyakit kaki gajah.
Ribuan warga Kabupaten Bandung yang diduga menderita filariasis (kaki gajah) diberi tablet “diethyl carbamazine citrate” (DEC), “albendazole”, dan “paracetamol” secara cuma-cuma.
Namun, beberapa saat setelah mengonsumsi obat itu, sejumlah warga menderita pusing, mual, muntah, dan pegal-pegal pada sekujur tubuhnya. (*an/ham)
Share Send to Twitter Email this article
Read Also:

[...] Pada liat berita pagi…kasus 9 orang meninggal akibat pengobatan filariasis…??? [http://matanews.com/2009/11/15/usut-kasus-obat-filariasis/] [...]