Pengembangan UMKM Sekedar Jargon

Headlines | Sat, Nov 14, 2009 at 18:38 | Jakarta, matanews.com

umkm

UMKM/dok.file

Seorang pengamat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengatakan upaya pengembangan UMKM yang dilakukan oleh pemerintah baru sekedar jargon karena tindakan nyata di lapangan masih kurang.

“Perhatian pemerintah terhadap UMKM masih diskriminatif,” kata Azrul Tanjung, Direktur Pusat Pengembangan Kewirausahaan dan UMKM PP Muhammadiyah, di sela seminar Penguatan Kelembagaan UMKM Menuju Peningkatan Produktivitas Nasional yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kewirausahaan dan UMKM PP Muhammadiyah di Jakarta, Sabtu.

Sebagai contoh, katanya, pemerintah sangat mudah mengeluarkan dana sekitar Rp6,7 triliun untuk menyelamatkan Bank Century. “Padahal kalau untuk UMKM maka jutaan usaha bisa didukung,” katanya. Sementara itu akses kredit usaha rakyat yang disalurkan untuk usaha kecil masih dirasakan cukup sulit.

Ia mengatakan, berbagai usaha kerajinan, nelayan kecil dan juga pedagang kecil masih belum mendapat tempat dalam ekonomi Indonesia. Padahal, katanya jumlah usaha UMKM dan penyerapan tenaga kerja oleh UMKM lebih dari 90 persen dalam perekonomian Indonesia.

“Seharusnya perlakuan kepada usaha besar dan BUMN juga diberikan kepada UMKM,” katanya. Untuk mengembangkan UMKM, katanya, maka harus dibuat skim kredit yang cocok untuk UMKM, membantu pemasaran dan juga mengorganisir UMKM secara baik.

Sementara itu Ekonom Econit Advisory Group Hendri Saparini saat seminar mengatakan, salah satu keterbatasan UMKM adalah pendanaan. Ia mengatakan, walaupun saat ini sudah ada kredit usaha rakyat namun aksesnya UMKM untuk mendapatkannya masih terbatas, terutama jika ingin mengambil kredit yang akan besar.

Sedangkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang UMKM Sandiaga S Uno mengatakan, banyaknya UMKM, terutama usaha mikro, karena pemerintah tidak mampu menciptakan lapangan kerja. “Mereka lahir karena keterpaksaan atau di-PHK,” katanya.

Ia memberi contoh, Indonesia dengan jumlah penduduk 230 juta mempunyai sekitar 50 juta unit UMKM sementara itu China dengan 1,2 miliar penduduk hanya mempunyai 21 juta UMKM. Ia berharap UKM dan usaha besar makin meningkat dan usaha mikro berkurang, sehingga penyerapan tenaga kerja mampu lebih baik lagi.

Mengenai sektor yang cocok untuk UMKM, Sandiaga mengatakan ada tiga yakni industri kreatif, agrobisnis dan pariwisata. Ia mengatakan, saat ini animasi dunia banyak dikerjakan oleh orang Indonesia.

Sementara itu, katanya, sektor pariwisata akan banyak membuat usaha ikutan seperti penginapan, biro perjalanan, cendera mata, dan rumah makan. Untuk agrobisnis, Sandiaga mengatakan, potensinya sangat besar. Sebagai contoh, Indonesia terkenal sebagai pengekspor bahan baku coklat dunia. Namun sayangnya Indonesia tidak mampu mengolahnya dan bahkan mengimpor coklat olahan dari luar negeri.(*an/z)

Share

Read Also:

 

Post Your Comment