Pengamat Politik dari LSM Bangkit Indonesia, Adhi Masardi mengatakan, komponen menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang telah dilantik Presiden SBY dinilai tidak profesional dan tidak kompeten. Bahkan beberapa pengamat politik menilai para menteri tersebut merupakan titipan tangan asing.
Bahkan bukan itu saja kata Adhi Masardi, komponen menteri dalam kabinet SBY-Boediono Jilid II ini hanya mengakomodasi kepentingan partai politik koalisi. “Saya katakan kita jangan berharap banyak dari kinerja menteri-menteri ini untuk lima tahun ke depan,” kata Adhi Masardi di Jakarta, Jumat.
Adhi menambahkan beberapa orang dari menteri ini ditempatkan pada posisi yang salah, karena tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan karier kerja. “Misalnya saja Purnomo Yusgiantoro di Menteri Pertahanan. Ini kan tidak masuk akal. Pendidikan dan kariernya dia kan di bidang energi dan ekonomi. Kok jadi menteri pertahanan,” jelasnya.
Sementara itu Budayawan, Ray Sahetapy mengemukakan komposisi menteri di KIB Jilid II tidak mengakomodasi utusan dari suku dan daerah di Indonesia. Menurutnya komposisi menteri itu berdasarkan daerah, 11 menteri dari Sumatera, 22 Dari Jawa, 4 dari Sulawesi, dan dari Bali, Papua dan Kalimantan masing-masing 1.
“Makanya kita jangan heran kemarin mahasiswa di Ambon, provinsi Maluku melakukan demo meminta jatah menteri dari Maluku. Sata katakan komposisi menteri ini tidak mengakomodasi kepentingan daerah dan suku karena didominasi suku dan daerah tertentu,” ujar Ray Sahetapy.
Seharusnya kata Ray komposisi mentari harus mengakomodasi kepentingan suku, agama, dan daerah karena sesuai dengan dasar negara yakni Pancasila.”Susunan kabinet ini telah melecehkan Pancasila. Masih banyak putra-putra daerah dari seluruh Indonesia yang memiliki kompetensi jadi menteri, tapi kenapa didominasi suku dan daerah tertentu saja,” ungkapnya.
Agung Nugroho dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), justru lebih menyoroti pada posisi menteri kesehatan Endang Rahayu Setianingsih. Menurutnya sosok yang satu ini merupakan salah satu menteri yang merupakan hasil kompromi antar pemeritah RI, WHO dan Amerika Serikat.
“Endang merupakan titipan asing untuk ditempatkan di KIB Jilid II. Dan dia memiliki track record yang buruk seputar keinginannya untuk mempertahankan laboratorium milik pemerintah As di Indonesia yakni Namru,” kata Agung.
Menurut Agung dengan terpilihnya Endang Rahayu Setianingsih jadi menteri kesehatan, maka otomatis program Jankesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) pasti ditutup dan laboratorium Namru tetap akan beroperasi di Indonesia.(*edy/z)
Share Send to Twitter Email this article
Read Also:

Segala sesuatu yg menjadi keputusan pasti ada pro dan kontra. Sulit memang kalo harus bisa mengakomodir keinginan dan kepentingan semua pihak. Tidak ada keputusan yg sempurna. Apapun yg sudah diputuskan pasti ada konsekuensinya. Semoga Indonesia Maju.