Sosiolog UI, Kastorius Sinaga, menyatakan permasalahan terorisme di Indonesia adalah sesuatu yang sangat kompleks. Menurutnya akar dari permasalahan terorisme di Indonesia adalah adanya pembodohan yang melahirkan fundamentalisme di tingkat akar. “Misalnya Malaysia, kan lebih maju, masyarakatnya lebih sejahtera, dan pendidikannya tinggi. Tidak seperti Indonesia,” jelasnya.
Akar penyebab ini, kata Kastorius, terjadi dalam konteks sejarah atau politik yang sedang mengalami transisi demokrasi.
Selain itu kata Kastorius, keberadaan akar permasalahan ini juga ada di dalam kondisi di mana negara belum mampu menjaga stabilitas keamanan, dan masih dibayangi permasalahan masa lalu atau sistemik. “Dalam bingkai yang seperti ini muncul berbagai manuver politik, yang salah satunya terbangun dalam aksi terorisme,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Untuk permasalahan terorisme ini, menurut Kastorius, langkah pertama yang harus diambil pemerintah adalah memperkuat kelembagaan, karena terorisme merupakan ancaman sosial dan hukum yang harus ditingkatkan negara. “Dan juga negara juga harus mampu memberikan jaminan di mana pluralisme lebih mahal daripada aksi terorisme yang mau memenangkan fundamental dalam dirinya,” terangnya.
Mengenai tragedi pemboman di JW Marriott dan Ritz Carlton, Jumat (17/7), Kastorius menduga ada mata rantai yang putus dalam sistem keamanan negara. “Sesuai pernyataan presiden, bahwa jauh hari sudah ada laporan intelejen tentang hal itu, tapi laporan tinggal laporan. Tidak ada satu aksi keputusan bersama yang bersandar pada laporan intelejen tersebut,” tuturnya.
Dari kasus pemboman JW Marriott dan Ritz Carlton, Kastorius melihat bahwa sistem keamanan Indonesia sudah cukup baik mengendus sebuah aksi teroris, walau tidak ada penindaklanjutan. “Pelajaran dari bom Marriott, memang kita harus membuat reformasi di sektor keamanan,” tegasnya.(*z/rik)
Share Send to Twitter Email this article
Read Also:
