Latest News

Jejak Pandemi di Indonesia

Headlines | Sun, Jun 21, 2009 at 07:15 | Jakarta, matanews.com

Kejadian luar biasa penyakit influenza yang pertama di Indonesia ternyata tidak terjadi pada 2005 ketika virus Avian Influenza (flu burung) merebak dan merenggut jiwa. Wabah influenza sudah pernah terjadi tahun 1850-an di beberapa wilayah Indonesia. Penduduk negeri ini ternyata juga ikut terkena dampak pandemi influenza yang melanda dunia pada 1918.

Fakta baru tentang sejarah pandemi di Indonesia itu terungkap dari temuan awal penelitian sekelompok sejarawan Universitas Indonesia yang digali dari tumpukan berbagai arsip berusia ratusan tahun koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Arsip yang dimaksud antara lain berupa “Algemeen Secretarie”, “Memorie van Overgrave” (khasanah karesidenan), “Binnenlandsch Bestuur” (berkas terkait kesehatan dan wabah di Departemen Dalam Negeri), serta “Kolonial Verslag” dan “Indisch Verslag” (laporan Menteri Koloni Belanda dalam sidang tahunan Parlemen di Den Haag).

Data sejarah pandemi juga diperoleh dari “Staatsblad van Nederlandsch Indie” (Lembaran Negara Hindia Belanda) dan “Bijblad” (Tambahan Lembaran Negara) yang memuat kumpulan peraturan khususnya yang berkaitan dengan aturan di bidang kesehatan dan pencegahan penyakit.

“Kami juga mendapatkan data-data dari majalah `Geneeskundig Tijdschrift van Nederlandsch` dan `Indie Mededelingen van Nederlandsch Zending Genootschap`,” kata salah satu peneliti, Kresno Brahmantyo.

“Geneeskundig Tijdschrift van Nederlandsch” adalah majalah tahunan yang diterbitkan oleh persatuan dokter Hindia Belanda dan berisi tulisan ahli medis mengenai berbagai macam penyakit sementara “Mededelingen van Nederlandsch Zending Genootschap” merupakan majalah yang diterbitkan oleh lembaga zending Belanda dan memuat laporan karya misionaris mereka.

“Menurut sumber-sumber sejarah yang kami teliti itu, wabah penyakit serupa influenza dilaporkan menyerang banyak personel militer di Ambon pada Januari 1852, tapi setelah itu tidak terdengar kabar lain tentang wabah pertama tersebut,” kata Kresno.

Kejadian penyakit dengan gejala batuk, sesak nafas, ngilu tulang, pusing dan lemas juga dilaporkan melanda Borneo (Kalimantan) Barat pada 1860 dan penduduk hampir seluruh desa di Pamanukan juga terserang penyakit itu pada 1872-1873.

Tahun 1874-1875, penyakit influenza dilaporkan terjadi di Blora. Jumlah penduduk yang meninggal dunia akibat penyakit dengan gejala mirip influenza tersebut selama Desember 1874-April 1875 dilaporkan mencapai 1.634 orang.

Militer Belanda yang akan dibawa ke Muara Teweh dengan Kapal Uap Bone pada 5 April 1890 juga dilaporkan terserang flu, juga 90 orang tentara dari Eropa yang mendarat di Padang Panjang pada bulan dan tahun yang sama.

“Tahun 1890 dilaporkan bahwa wabah hanya melanda daerah tertentu yang terbagi dalam tiga wilayah militer. Ketika itu wabah, katanya, muncul pada April-Mei saat pergantian musim yang dibawa angin, saat kondisi iklim lembab, hujan turun tiba-tiba, angin bertiup kencang,” jelasnya.

Hasil temuan awal penelitian mengenai sejarah pandemi yang dilakukan sejak 1,5 bulan lalu juga menunjukkan bahwa pada 1890 sebanyak 1.312 anggota militer Belanda dan 2.488 penduduk pribumi di Sumatera Barat serta 402 anggota militer Belanda dan 682 penduduk pribumi di Banjarmasin terjangkit penyakit influenza.

Tahun yang sama, sebanyak 101 anggota militer Belanda dan 186 orang pribumi di Magelang juga terserang penyakit itu.

“Kejadian wabah tahun 1890 hanya melanda daerah tertentu yang terbagi dalam wilayah militer. Penyakit ini kemungkinan ditularkan oleh anggota militer yang turun dari kapal-kapal Eropa,” kata Harto Juwono, anggota tim peneliti yang lain.

Pandemi 1918

Rangkaian kejadian penyakit influenza selanjutnya juga terjadi pada 1918, saat dunia dilanda pandemi influenza yang ketika itu mengakibatkan sekitar 20 juta sampai 40 juta penduduk dunia meninggal dunia.

Bulan Mei 1918, Konsulat Jendral Belanda di Singapura memberi peringatan ke Batavia untuk melarang masuknya kapal-kapal dari Hong Kong masuk ke wilayah Batavian karena dikhawatirkan membawa wabah influenza.

“Ada juga `Telegram Zending van Gouverment` atau telegram pemerintah yang menunjukkan kegawatan situasi saat itu,” kata Harto.

Tanggal 14 November 1918, pemerintah Banyuwangi mengirim telegram ke pemerintah Hindia Belanda di Batavia untuk meminta bantuan kesehatan karena tidak mampu memberantas influenza. Telegram serupa juga diterima dari Singaraja, Bali, pada tahun yang sama.

Menurut Harto, wabah influenza yang melanda wilayah Jawa dan Madura ketika itu cukup parah.

Data dari arsip temuan awal menyebutkan bahwa antara minggu ke-27 sampai ke-43 pada 1917 sebanyak 230.098 penduduk di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Madura, Bali, Lombok) terserang influenza dan pada 1918 jumlahnya meningkat menjadi 229.566 orang.

“Rupanya ketika itu pendataan dilakukan secara periodik. Periode selanjutnya, minggu ke-44 sampai minggu ke-47 disebutkan bahwa pada 1917 dilaporkan 51.688 kasus dan tahun berikutnya sebanyak 359.241 kasus di wilayah itu,” katanya.

Meski arsip memunculkan angka-angka itu, Harto mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan jumlah riil penduduk yang terserang influenza ketika itu.

“Ini masih temuan awal. Kami harus melakukan analisis, interprestasi dan pemeriksaan silang dengan arsip-arsip yang ada di daerah untuk mengetahui data dan fakta yang lebih akurat,” katanya serta menambahkan penelitian itu masih akan dilanjutkan hingga 4,5 bulan mendatang.

Namun Kresno dan Harto menandaskan bahwa cukup banyak bukti yang menunjukkan adanya dampak nyata pandemi influenza tahun 1918 di wilayah Indonesia.

Hal itu, menurut Kresno, dipertegas dengan penerbitan ordonansi atau undang-undang khusus mengenai influenza pada 1920 untuk menanggulangi penyebaran penyakit itu.

Ordonansi pemerintah Hindia yang disebut “Staatblad van Nederlandsch-Indie 1920 Nomor 793 Geneeskundige Dienst, Besmettelijke Zieketen Influenza Ordonantie” itu berisi seruan kepada inspektur dinas kesehatan, kepala daerah, sekolah, kapal laut, pelabuhan kelas 1-4, kepala pelabuhan dan nakhoda untuk mengibarkan Bendera Influenza.

Daerah yang terjangkit influenza diminta mengibarkan Bendera Influenza warna merah dari matahari terbenam hingga terbit, memasang sinar putih yang tampak dari dua mil laut serta mengibarkan bendera kuning dari matahari terbit hingga terbenam.

“Pemerintah juga menerbitkan panduan untuk penerangan bagi masyarakat berupa buku setebal 40 halaman dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Jawa serta disisipi gambar wayang. Tampaknya ini diperuntukkan bagi dalang,” katanya.

Buku panduan berjudul “Lelara Influenza” atau penyakit influenza itu diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda di Weltervreden, wilayah Batavia yang sekarang lebih kurang mencakup wilayah Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Isinya antara lain berupa keterangan tentang seluk beluk serta cara pencegahan dan pengobatan penyakit influenza.

Di dalamnya antara lain tertulis pernyataan yang dalam bahasa Indonesia berarti, “…influenza bisa mengakibatkan sakit panas dan batuk, mudah menular, asalnya dari abu atau debu, berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu…”

Juga pernyataan “…Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah, harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi…” serta “…Dianjurkan makan bubur, nasi putih dan syur bening (yang halus-halus). Kalau minum harus air matang, lebih baik minum teh hangat, selama lima hari. Setiap hari harus minum kinina (pil kina) untuk orang tua malam tiga tablet, siang tiga tablet.”

Adapula anjuran untuk mengobati batuk diobati dengan obat batuk dan “jika sakitnya sudah seminggu, sekiranya badannya sudah kuat boleh keluar rumah, tapi tidak boleh buka baju, harus nurut aturan yang baik dan harus meniru petunjuk atau pedoman dari pejabat setempat: wedana, polisi desa atau petinggi pemerintah.”

Menurut arsip, ketika itu pengobatan influenza dilakukan dengan dedaunan, kina, obat sulfa cinicus dan bahkan opium.

“Cara pencegahan dan pengobatan yang dilakukan tentunya sesuai dengan ilmu dan teknik pengobatan yang ada pada zaman itu,” kata Kresno.

Meski terjadi pada jaman dan periode waktu yang jauh berbeda, fakta-fakta sejarah tentang pandemi berikut upaya pencegahan dan penanggulangannya itu diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi pemangku kepentingan pada masa kini dalam mengendalikan penyakit influenza A (H1N1) jenis baru yang saat ini menjadi pandemi global.

“Ini fakta sejarah yang menarik. Bahwa saat pandemi global tahun 1918 kita ikut terdampak dan pemerintah Hindia Belanda sampai mengeluarkan aturan setingkat undang-undang untuk mengatasinya,” kata Ketua Pelaksana Harian Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi.

Para sejarawan yang terlibat dalam penelitian sejarah pandemi juga berharap hasil penelitian mereka tentang kejadian pada masa lalu itu nantinya bisa menjadi bahan sosialisasi, komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pandemi influenza.

“Sejarah memang mengenai masa lampau, tetapi pelajarannya dapat dipetik untuk memperbaiki masa kini dan masa depan. Sejarah tentang pandemi ini juga dipelajari untuk dimanfaatkan bagi keperluan masyarakat dan bangsa,” demikian Kresno Brahmantyo. (*a)

Read Also:

 
 

Post Your Comment